Suara dentuman drum bergemuruh di seluruh arena, mengiringi cahaya sorotan yang menari liar ke segala arah. Layar raksasa menampilkan sorotan wajah Leena yang masih berdiri tegap di tengah arena, meski napasnya terlihat sedikit berat karena energi spiritualnya yang terkuras terus menerus tanpa dapat mengisi kembali di dunia tersebut.

"DAN PEMENANG ARENA KEMATIAN KALI INI ADALAH, LEEEENAAA!!!" teriak pembawa acara dengan suara membahana, memicu gelombang sorakan ketidakpuasan dan teriakan dari para penonton.

"Gila! Manusia lemah itu ngalahin Veyron! Apakah pertandingan ini sudah di rekayasa? Bagaimana mungkin wanita selemah itu bisa menang dengan mudah?"  

"Benar. Tidak mungkin empat petarung kuat bisa kalah melawan seorang wanita. Hei kembalikan uang kami!" teriak seorang penonton yang merasa kecewa jagoannya kalah. Awalnya dia memilih Lorrik, seorang cyborg yang sudah terkenal dengan kekuatannya. Namun pilihannya kalah. Untuk menutupi kekalahan, dia bertaruh lagi untuk Veyron. Namun tidak di duga, Veyron kalah dengan mudah. 
 
"Manusia itu menyebut kata... Golden Abyss Palm, ya? Apa itu? Apakah itu cara mengaktifkan mesin teknologinya? Atau mungkin kode agar Veyron menyerah untuk menipu kita semua?" tanya salah satu ras asing, menyuarakan ketidakpuasan dengan hasil pertandingan.

Suasana di tribun berubah muram. Ratusan suara bergema dengan nada frustrasi, sebagian besar merasa ditipu oleh hasil pertarungan.

"Sial, jagoan kita kalah! Taruhan ku hancur!"  

"Lihat saja, wanita itu bahkan tak terluka. Selain senjata bersinar yang di miliki, apa lagi kemampuan wanita itu? Aku sangat kecewa."

Perasaan campur aduk merayap di antara penonton. Sebagian besar kecewa karena petarung unggulan mereka tumbang dan yakin adanya tipuan di pertarungan. Sebagian lagi yang menyukai kecantikan Leena merasa terperangah, mulai menyukai Leena yang tampil memukau bak dewi perang dari dunia lain.

"Wanita itu... kalau sudah begini di arena, bagaimana kalau di ranjang?" celetuk seorang dengan nada cabul, membuat beberapa orang menoleh sinis.

Tiba-tiba, panggung utama bergetar pelan.

Lampu sorot menyorot ke satu sisi arena. Sebuah pintu baja raksasa bergeser terbuka perlahan, suara gemeretak logam menggetarkan dada.

Langkah berat menggema, dentuman seolah datang dari raksasa purba.

GRAAAK... KOOONNN!!!

Sorakan liar membuncah dari tribun saat sosok itu muncul. Penonton yang tadi kecewa kini bersorak kebingungan. Bahkan pembawa acara sempat terdiam, terkejut oleh kemunculan di luar skrip.

Seorang makhluk raksasa, setinggi hampir empat meter, melangkah keluar dengan tubuh hijau tua yang berlapis tanduk keras seperti batu. Urat-urat di tubuhnya berdenyut kasar, sabuk bio-massa di pinggangnya menyala perlahan dengan warna oranye, menyebar ke sekujur tubuh. Matanya bersinar merah, menatap Leena seperti seekor binatang buas yang menemukan mangsanya.

Seorang wanita terlihat mendekati pembawa acara dan membisikkan sesuatu ke telinganya. Dengan cepat wajah pembawa acara berubah ceria. Dia sudah merasa cemas memikirkan cara menjelaskan kemenangan mudah yang didapatkan wanita tersebut kepada penonton yang terlihat tidak puas.

"PEMIRSAAAAA, LUAR BIASAAAA. SAKSIKANLAH HAL BERBEDA....."
 
Pembawa acara dengan semangat kembali muncul untuk memimpin acara.

"ITU DIA! PETARUNG PERINGKAT KELIMA KITA! SANG PEMUSNAH, GRRAAAKKKOOONNN!!!" seru sang pembawa acara, hampir tak bisa mengimbangi suara sorakan penonton.

"WOOOHHHH!!! GRRAKKONNN!!! HANCURKAN DIAAAA!!!"  


Pembawa acara kembali bicara, kali ini dengan nada lebih dramatis.

"Biasanya... hanya petarung yang menang yang berhak menantang salah satu dari Lima Besar! Tapi karena pertarungan sebelumnya terlalu cepat dan kalian belum merasa puas... maka kali ini, demi hiburan kalian semua, Grakkon sendiri yang turun langsung untuk menan... "

Belum selesai kalimat itu, suara angin terbelah memotong udara.

Grakkon sudah melompat masuk ke tengah arena, menciptakan dentuman hebat saat mendarat. Tanpa memberi isyarat atau aba-aba, dia langsung mengayunkan tangannya sebesar tiang baja ke arah Leena.

"Hajar gadis itu! Kasih pelajaran karena sudah mempermalukan jagoan kita!"

"Grakkon... Hajar manusia curang itu ..."

Para penonton merasa bersemangat dengan kehadiran Grakkon. 

Mereka tahu, Grakkon bukanlah makhluk biasa dan tidak mungkin curang karena dia sangat pemarah dan paling tidak suka kalah. Grakkon sendiri sebenarnya tercipta secara tidak sengaja akibat sebuah penelitian  yang gagal, Professor tersebut menyerap sinar radiasi gamma dalam jumlah sangat besar membuat tubuhnya berubah menjadi raksasa hijau tua besar bertanduk saat marah. Ketika bertarung dan merasa marah, kekuatannya semakin membesar.

Tubuhnya kuat dan kebal, tidak mudah dilukai oleh berbagai senjata. Seandainya terluka, dengan cepat tubuhnya pulih. Bahkan tingkat ke empat hingga pertama petarung terkuat turnamen berhasil menang karena jumlah poin, bukan menjatuhkannya, dimana jika pertarungan dilanjutkan tidak bisa didapatkan siapa pemenangnya hingga berbulan-bulan.

Leena melompat ke belakang, menghindar cepat. "Dia... tidak sabar rupanya," gumamnya pelan.

Tanpa ragu, Leena membalas dengan gerakan cepat untuk melumpuhkan pergerakannya. Leena melakukan gerakan berputar ke arah belakang Grakon, gerakan Leena terlihat bagaikan tarian seorang bidadari, dia mengayunkan pedang ke arah kaki.

 "CRASH!"
 
 "BUKK!"
 
Terdengar suara keras pedang yang mengenai kaki dengan telak dan pukulan keras menggunakan gagang pedang untuk memukul bagian belakang kepala Grakon.

"Dengan ini dia akan lumpuh untuk sementara. Aku tidak ingin membunuhnya." batin Leena yang ingin secepatnya menyelesaikan pertarungan.

Namun Leena merasa kaget saat ayunan tangan Grakon berputar dengan cepat hampir. Leena melompat ke belakang cepat dengan heran. Dia melihat serangan yang sudah dilakukannya tidak memberikan dampak apapun bagi Grakon.

"Aku sudah meremehkannya. Dia jauh berbeda dengan lawan sebelumnya." Batin Leena.

Sambil melompat, Leena mengerahkan jurus yang menjadi andalannya. 

Selama di dunia kultivasi, Leena hanya menguasai beberapa jurus karena para guru dan tetua mengira Leena sebagai Ling Mei, mereka beranggapa Leena sudah memiliki banyak jurus yang dilatih sejak kecil sehingga membiarkannya berlatih sendiri menyempurnakan jurusnya. Leena sendiri hanya fokus melatih beberapa gerakan yang diajarkan langsung oleh ayahnya, berkat akar spiritual khusus dan tubuh khusus yang dimilikinya, dengan cepat dia menguasai gerakan yang diajarkan.

"Void Cleaving Slash!"

Pedangnya terangkat, energi qi yang dikumpulkan Leena jauh lebih kuat daripada saat melawan ketiga lawan sebelumnya. Dengan cepat, energi pedang bercahaya berkilauan dan Leena segera menebaskan  energi pedang tersebut langsung ke dada Grakkon.

CLANGGG!!

Dengan telak, energi pedang mengenai dada Grakkon. Percikan api memancar, namun tidak ada luka. Tubuh Grakkon hanya termundur sedikit.

Serangan yang di berikan Leena tidak memberikan dampak namun membuat Grakkon semakin bertambah marah. Tubuhnya terlihat semakin membesar, teriakannya membuat gemetar para penonton.

GRAAAK... KOOONNN!!!

"Lihat, ternyata wanita itu memang lemah. Jurus yang dikeluarkannya hanya permainan anak-anak! Tidak berguna untuk menghadapi Grakkon." kata seorang penonton yang merasa sangat jengkel dengan Leena, penyebab kerugiannya.

"Golden Abyss Palm!"

Leena menghantamkan telapak tangannya ke arah tubuh raksasa yang semakin mendekat. Ledakan qi emas menghentak hebat, debu menyebar ke segala arah. Tapi begitu asap menghilang...

Grakkon masih berdiri. Tidak terluka. Hanya termundur beberapa meter. Justru... wajahnya tampak lebih marah dari sebelumnya.

RAAAAAGHHHH!!!

Suara raungan liar mengguncang arena. Urat-uratnya menegang, sabuk bio-massa menyala semakin terang. Dia bergerak jauh lebih cepat dari sebelumnya, meluncur seperti meteor dan menghantamkan tinjunya ke arah Leena.

Leena menghindar, melompat dan menebas bahunya.

Masih tidak tembus.

"Dia... kebal...?" Leena mengerutkan kening.

Seketika itu pula, Grakkon berhasil menangkap pergelangan kaki Leena di udara.

Dengan kekuatan brutal, dia membanting Leena ke tanah. Arena bergetar hebat, retakan besar muncul, dan tubuh Leena menciptakan cekungan lebar di tengah lantai arena.

Grakkon mengangkatnya lagi dan membanting ulang, berulang-ulang, menciptakan kerusakan di beberapa titik.

"WOAAHHH!!! APA ITU BARUSAN? LIHAT JAGOAN KITA MENGHABISI PENANTANG BARU KITA DENGAN MUDAH!" kata pembawa acara dengan antusias.

Pembawa acara melanjutkan setelah terdiam sejenak menambah ketegangan suasana."LEENA DIBANTING OLEH JAGOAN KITA!!!"

"GRRAAKKONNNN!!!" Sorakan menggema bak gemuruh badai. Beberapa penonton melonjak berdiri, mengepalkan tangan ke udara.

"Hahaha! Itu dia! Bukan pertarungan seru kalau tak ada darah!"

"GRRAKKON! KAU HEBAT! KAU SUDAH HANCURKAN MANUSIA ITU!"

Namun tak semua bersorak kegirangan.

"Sayang sekali... wajah secantik itu harus remuk begitu saja."

"Dia kelihatan seperti dewi, tapi sekarang... ah, tubuhnya pasti hancur..."

Beberapa yang awalnya mencibir Leena kini justru merasa iba. Namun mayoritas tetap bersorak riuh, terpukau oleh kekuatan Grakkon.

"Dia tidak pandang bulu, mau lawannya pria, wanita, atau manusia! Lihat saja, tak ada belas kasihan!"

"Itu baru petarung sejati! GRRAKKONNN!!!"

Asap mengepul, puing beterbangan. Grakkon berdiri di tepi lubang, dadanya naik turun, matanya membara penuh amarah. Ia mengangkat tangannya, mengaum kepada penonton yang membalas dengan sorakan liar.